Ekosistem Subak
Sistem irigasi tradisional Bali yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Filosofi Tri Hita Karana
Subak bukan sekadar sistem irigasi teknis, melainkan organisasi sosio-religius yang mengelola siklus pertanian berdasarkan tiga pilar utama:
Palemahan (Aspek Fisik)
Wujud fisik ekosistem mulai dari hutan hulu, bendungan (empelan), parit pembagi (telabah), hingga petak sawah terasering yang indah.
Pawongan (Aspek Manusia)
Sistem demokrasi mandiri yang dipimpin oleh Pekaseh. Seluruh aktivitas dikawal oleh hukum adat tertulis (Awig-Awig).
Parahyangan (Aspek Spiritual)
Jaringan pura Subak dan Bedugul tempat menghaturkan banten untuk memuja Dewi Sri dan Dewa Wisnu.
Mahakarya Ekologis
Desain terasering Jatiluwih merupakan mahakarya untuk mencegah erosi, menahan air, dan menjaga kesuburan tanah pegunungan secara alami tanpa merusak kontur bumi.
Organisasi Subak
- Pekaseh: Pemimpin tertinggi Subak yang dipilih langsung oleh petani untuk mengatur jadwal tanam (Sasih).
- Awig-Awig: Hukum adat yang memastikan keadilan mutlak dalam pembagian air irigasi.
- Sanksi Adat: Diberlakukan bagi pelanggar aturan guna menjaga ketertiban dan kelestarian lingkungan.